Pergi keladang kebun melinjo dan durian, dibawahnya terhampar tanaman liar perdu Parasi.
Perdu2-an gulma sejenis salak tdk berduri, tingginya dua jengkal, mayang buahnya sebesar ujung kelingking, berisi 3/4 buah berkamar 3.
Isi buahnya berbiji hitam dibungkus daging buah berwarna putih seperti jeli, baunya harum, rasanya manis.
Disisir seputar kebun, dicari mayang buah yg masak dan ranum, ditenpatkan didalam cayut kecil mainan anak.
"Tuh dikebon kula buah parasi mayak, kamari eta karak dibabad", kata ma Ambi, keponakan uyut kebunnya bersebelahan.
Rasa buah Parasi manisnya hanya selintas, tapi, ini tapinya, setelah makan buah ini, setiap kita minum air putih, terasa maniiis, tak habis-habis.
Rasa inilah yg membuat anak2 kampung heboh, rasa istimewa dan ajaib, (untuk ukuran di kampung) waktu itu.
Bahkan anak2 kota, dari Bogor kalau pulang mudik ke Pandeglang, heboh juga, ada lebihnya, mereka membawa perdunya dalam pot, "buat ditanam didepan rumah".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar