Senin, 06 November 2017

0412. MANG DURADJAK :

Mang Duradjak orang Banten tinggal di talang Dalung dekat sungai Way Umpu, ke-mana2 memakai baju kampret hitam dan celana pangsi, tak lupa golok dipinggang, jawara lah dari Banten walau tinggal di Lampung.

Malam itu jasad mang Misra dibaringkan di pangkeng rumah eyang Banten, menunggu keluarga dan penguburan esok hari, ditengah rumah orang mengaji sudah mulai pulang satu2. Djak tungguan tah mayit dipangkeng, "iih enya atuh kak", eyang sendiri sdh tidur diranjang.

Mang Duradjak duduk ditunjangeun mayat sendirian.
Orang mengaji sdh pd pulang, malam makin larut sementara sumbu cempor minyak tanah mulai berkerak, sinarnya makin redup, samar2 telihat kain batik rurub mayat bergerak sedikit tersingkap keatas, "wu.....aaah.......... teh aya kopi tah, tunduh amat jing", setelah minum kopi malam sepi lagi.

Tambah malam tambah sepi sinar lampu makin redup, kain batik rurub yg tadi berhenti dibatas mata kaki mayat, kelihatan bergerak lagi, "wuu..........aaah, aya rokok tah", setelah merokok malam tambah sepi. Kain rurub yg tadi berhenti dibetis mayat masih bergerak lagi,  "wuu......aaah,....reungit dia".

Total jendral mang Duradjak semalaman tdk tidur, paginya dia cerita banyak sama orang kampung, enyaan ieu mah, heran amat tah, kaen rurub mayit bet bisa nyingsat kitu nyah, orang kampung pun merasa heran.

Jawaban datang dari eyang Banten, tingali kaen rurubna aya benangan tah. Mang Duradjak yg penasaran memeriksa kain rurub, "dasar dia kak Usin, aya benang hideungan tah juruna", lain kadek tah ku golok dia djak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar