Mang Dulkarim masih saudara, orangnya pendek badannya kekar, kalau mikul karung kopi plat hijau bisa 3 karung ditumpuk diatas pundak sekali angkat, dipikul dari gudang dinaikan lewat titian kayu keatas truk.
Itu beban sekitar 200 kg, kata orang dia pakai susuk.
Sekarang terbaring sakit keras, sdh tdk bisa bangun tapi masih bisa ngamuk, ditidurkan didalam rumah.
"Bawa kaluar kula hareudang", dipindahkan keluar, "panas panas aya cai tah banjurkeun bae", digotong ketempat cuci badanya disiram air.
"Ah,,,, masih panas mana ka Usin teh lama amat jing", "hayang ka kandang", digotong ditidurkan di kandang kambing,,,,, kosong.
Eyang memang lagi pergi ke luar kota, tak lama datang dan langsung nengok orang yg sakit, kunaon tah dul, "ka Usin tulungan yeuh kula", heug tapi sing sabar nyah.
Eyang minta air putih dibaskom kemudian dibacakan doa, air diusapkan ke badan mang Dulkarim yg mulai lemas dan terekulai, bintil2 disekujur badannya kempes dan rata.
Mang Dulkarim membuka mata minta maaf dan menyalami saudara dan orang yg hadir, terahir dan lama memegang tangan eyang.
Sok dibantuan bari maca tasbih, "SubhanaLLah walhamduliIllah walaIlahha Illalahu Allahhu akbar walahaula walaquwata ilabiLahi aliyiladiem".
Mang Dulkarim meninggal dlm damai, diiringi doa sanak saudara dan kerabat yg hadir.
InnaliIlahi waina Ilaihi rojiun mang Dulkarim, semoga diampuni segala dosanya, diterima amal baiknya serta mendapat tempat yg baik disisi Allah.
Anak mang Dulkarim yg masih abg kecil nyeletuk, "kok wa Usin bisa yah matiin orang", ah dasar anak2.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar