Mulwadi ahirnya dibawa orang kampung kerumah eyang, "pak Usin tolong obati saya, kepala saya pusing pak Usin, tapi jangan diikat", leupaskeun eta talina dak, tapi sing nurut nyah, "iya pak Usin".
Krn dirumah adanya nenek, masih gadis, tiap hari sodorkan makan dan minum.
Ada perubahan dari tingkah Mulwadi, sekarang tdk berlari naik motor, keliling kampung.
Sebagai gantinya dia keliling rumah eyang sambil ngintip nenek, dari celah jendela, dia membisikan yel-yel baru "aku cinta Nur’aini, aku cinta Nur’aini", dasar orang gila.
Tak lama datang bertamu 3 orang pria dari Surabaya, "saya mau menjemput Mulwadi pak", oh ya silahkan.
Mulwadi pun pulang kampung :
Dia melepas masa muda,
di(bukit Punggur) belantara,
memelihara tajar lada,
penuh cinta.
Buta,,,,,,,,tanya,
dan pulang ke Surabaya,
dg luka menganga,
didada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar