Datang musim buah dukuh, anak2 gadis sedang ngumpulin buah yg berjatuhan kala dipetik, "maneuu diis (maksudnya gadis) lah matang galeuu", kata mang Salam dan dia panjat pohon dukuh.
"Ambiee yg matang mang", yg maneuu, "yg itu tuuuuh, enduuu Salam niiih", yg maneuuu diis.
Dia pura2 mencari buah dukuh dg kain sarung sdh dililitkan dileher, jadilah pantat lengkap dg burung dan kedua telornya bergelayutan, tdk persis banget sih sama buah dukuh.
"Mang buah kweni di depan madrasah itu lah pada matang auuh", auh, payou aku panjat keuh. Berangkatlah mang Salam diiringi anak2 gadis, begitu sampai dibawah pohon kweni, dia melorotkan celana dan memanjat pokok kweni tanpa celana.
Buah kweni berjatuhan tapi tdk ada anak gadis yg mengambil buahnya, "dasar mang Salam lah gileuu", dan merekapun meninggalkannya, tinggal lah mang Salam dg buah kweni matang seberunang.
Sebenarnya masih ada kawannya iya pak mantri Ripto, orang Jawa juga, yg ini istrinya (teh Rumput) orang Serang. Kalau melihat anak2 gadis lewat teh Rumput manggil2, "Diis lihat kakang mu tuuh".
Iya suaminya duduk berjongkok didepan pintu rumah, dg kain sarung yg tergulung, burung yg bertelor sedang "ngisis bulu", "dasar mantri Ripto".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar