Eyang Banten remaja masih tinggal di kampung, kakak sulung badanya besar dan tinggi, makanya dipanggil mak Akung, semua adik2 patuh padanya, maklum keluarga ini ditinggal meninggal bpk sejak masih kecil, jadi mak Akung ini yg bertindak sebagai bpk kecil.
Dia orang ke2 setelah ibu Ukit (bao perempuan) yg paling tahu tentang perilaku adik2-nya. Sore ini mau berangkat ke kondangan pengajian, setelah mandi dan berdandan rapih, dia meraih baju taqwa yg tergantung, sekali lagi melihat dicermin, setelah mantap dia berangkat.
Dijln masih didepan rumah dia merogoh tembakau dan daun kawung dari saku kirinya, setelah dilinting dan diselipkan dibibir dia merogoh saku kanan, dia melompat.... melepas baju taqwa kemudian dilemparkan.
Dia bergegas kembali kerumah mencari............. tetapi tdk ketemu, kemudian duduk di-bale2 bersandar kedinding bilik bambu, sekarang tdk ada lagi selera merokok, dia hanya diam dan diam.
Menjelang magrib eyang Banten pulang kerumah, "kadieu dia Sin", dipanggil kakanya eyang datang merunduk, aya naon tah kak, kadieu bae.
Kemudian kedua tangannya diikat tambang pengikat kambing, dibawa kejalan, deuk kamana tah kak, "kadieu sakeudeung", eyang dituntun keujung kampung, ada makam yg rimbun dg pohon dan belukar, kemudian dibawa masuk, sekarang eyang sadar dia akan mendapat hukuman.
Kedua kaki dan tangannya diikat ke pokok pohon nangka, dan gelap malam mulai menyelimuti seluruh kampung.
Pagi hari mak akung baru datang menjemput membuka ikatan dan eyang dibawa pulang, selesai makan baru eyang cerita, kami mah teu sieun ku kuburan jeung ku bobongkong.
Ngan sapeuting teu bisa sare dikurubut nyamuk, leungeun teu bisa dipake ngageprak.
Yg bikin heran, mak akung badanya besar tinggi, ternyata lari ter-birit2 melemparkan baju, hanya kkrn merogoh anak tikus yg masih merah disaku baju taqwanya.
Sekali lagi, ketakutan memang milik semua orang, termasuk jawara kampung ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar