Ini cerita jawara Banten yg lain, dia ahli ngobatin orang digigit ular pawang ular, namanya mang Durali, pagi2 berangkat ber-iringan dg anak sekolah. rek kamana mang tanya anak2, rek kainya ka Pandeglang, rek ngubaran nu dipacok oray dak.
Dia biasa dipanggil ke-mana2 mengobati orang digigit ular, orang yg baru digigit ular cukup ditanya jenis ularnya, kemudian luka bekas gigitan siisap dan dimuntahkan, biasanya terus sembuh. Kalau gigitannya sdh lama harus dibantu dg ramuan.
Anak2 melihat ke saku kemeja mang Durali, "mang cik nginjeum tah pulpen", is ulah, ada pulpen Erro buatan germany, Tha Thung buatan china, ada Pilot buatan Japan, "hiji we". Mang durali kalah dikeroyok permintaan anak2, dia menarik pulpen Erro dibuka dan dibolak balik batangnya, euh ieu mah euweuh mangsian dak.
Pulpen dimasukkan lagi, menarik pulpen / balpoint Pilot, euweuh eusian dak, pulpen Tha Thung ternyata hanya tutupnya saja tdk ada batangnya.
Disaku kemejanga berderet pulpen berbagai merk dan pabrikan tapi tdk ada yg dpt dipakai menulis, "mang durali rek kumaha nulisna atuh pulpenna kosong kabeh jing", lah da kula na ge teu bisa nulis ieuh dak, oooh.
Senin, 06 November 2017
0413. JAWARA TULEN :
Ini cerita jawara Banten tulen, dia menjabat rurah sepanjang sejarah, rumah tinggalnya sedikit diatas saluran air, dibawah anak2 berenang diair banjir, tak lama terdengar hiruk pikuk dan orang2 berkumpul.
Ieu si pulan titeuleum, beberapa anak dewasa menggotong anak yg sdh lemas, "balikeun dia", anak yg tenggelam dipanggu terbalik sambil dibawa berlari, banyak keluar air dari mulut dan hidung.
Setelah ditidurkan anak masih tergolek lemas tak sadar,
rurah Muhadi alm terbangun dari tidur siang datang ter-gopoh2, melihat anak tergolek lemas, jiwa jawaranya terpanggil.
Tina ceuli can kaluar cai tah, "acan geh", halik dia, kepala anak dimiringkan dan ke2 telinganya diisap sama rurah Muhadi, telinga kirinya diisap berulang, "ieu mah mepeg jing".
Dan telinga diisap lebih kuat, "naeun tah dak gening ketel", semua anak mundur menjauh, mereka tahu telinga kiri si pulan memang congean, puaaah dia.
Rurah Muhadi lari ter-birit2, mendengar ribut2 yg pingsan pelan2 terbangun dan sadar, dia tdk tahu rurah Muhadi muntah2 isi perutnya keluar semua.
Sejak saat itu dia tdk mau lagi minum susu kental manis, meski hanya ditawari, seketika akan hilang kesaktian (jawaranya), muntah dan lemas.
Ieu si pulan titeuleum, beberapa anak dewasa menggotong anak yg sdh lemas, "balikeun dia", anak yg tenggelam dipanggu terbalik sambil dibawa berlari, banyak keluar air dari mulut dan hidung.
Setelah ditidurkan anak masih tergolek lemas tak sadar,
rurah Muhadi alm terbangun dari tidur siang datang ter-gopoh2, melihat anak tergolek lemas, jiwa jawaranya terpanggil.
Tina ceuli can kaluar cai tah, "acan geh", halik dia, kepala anak dimiringkan dan ke2 telinganya diisap sama rurah Muhadi, telinga kirinya diisap berulang, "ieu mah mepeg jing".
Dan telinga diisap lebih kuat, "naeun tah dak gening ketel", semua anak mundur menjauh, mereka tahu telinga kiri si pulan memang congean, puaaah dia.
Rurah Muhadi lari ter-birit2, mendengar ribut2 yg pingsan pelan2 terbangun dan sadar, dia tdk tahu rurah Muhadi muntah2 isi perutnya keluar semua.
Sejak saat itu dia tdk mau lagi minum susu kental manis, meski hanya ditawari, seketika akan hilang kesaktian (jawaranya), muntah dan lemas.
0412. MANG DURADJAK :
Mang Duradjak orang Banten tinggal di talang Dalung dekat sungai Way Umpu, ke-mana2 memakai baju kampret hitam dan celana pangsi, tak lupa golok dipinggang, jawara lah dari Banten walau tinggal di Lampung.
Malam itu jasad mang Misra dibaringkan di pangkeng rumah eyang Banten, menunggu keluarga dan penguburan esok hari, ditengah rumah orang mengaji sudah mulai pulang satu2. Djak tungguan tah mayit dipangkeng, "iih enya atuh kak", eyang sendiri sdh tidur diranjang.
Mang Duradjak duduk ditunjangeun mayat sendirian.
Orang mengaji sdh pd pulang, malam makin larut sementara sumbu cempor minyak tanah mulai berkerak, sinarnya makin redup, samar2 telihat kain batik rurub mayat bergerak sedikit tersingkap keatas, "wu.....aaah.......... teh aya kopi tah, tunduh amat jing", setelah minum kopi malam sepi lagi.
Tambah malam tambah sepi sinar lampu makin redup, kain batik rurub yg tadi berhenti dibatas mata kaki mayat, kelihatan bergerak lagi, "wuu..........aaah, aya rokok tah", setelah merokok malam tambah sepi. Kain rurub yg tadi berhenti dibetis mayat masih bergerak lagi, "wuu......aaah,....reungit dia".
Total jendral mang Duradjak semalaman tdk tidur, paginya dia cerita banyak sama orang kampung, enyaan ieu mah, heran amat tah, kaen rurub mayit bet bisa nyingsat kitu nyah, orang kampung pun merasa heran.
Jawaban datang dari eyang Banten, tingali kaen rurubna aya benangan tah. Mang Duradjak yg penasaran memeriksa kain rurub, "dasar dia kak Usin, aya benang hideungan tah juruna", lain kadek tah ku golok dia djak.
Malam itu jasad mang Misra dibaringkan di pangkeng rumah eyang Banten, menunggu keluarga dan penguburan esok hari, ditengah rumah orang mengaji sudah mulai pulang satu2. Djak tungguan tah mayit dipangkeng, "iih enya atuh kak", eyang sendiri sdh tidur diranjang.
Mang Duradjak duduk ditunjangeun mayat sendirian.
Orang mengaji sdh pd pulang, malam makin larut sementara sumbu cempor minyak tanah mulai berkerak, sinarnya makin redup, samar2 telihat kain batik rurub mayat bergerak sedikit tersingkap keatas, "wu.....aaah.......... teh aya kopi tah, tunduh amat jing", setelah minum kopi malam sepi lagi.
Tambah malam tambah sepi sinar lampu makin redup, kain batik rurub yg tadi berhenti dibatas mata kaki mayat, kelihatan bergerak lagi, "wuu..........aaah, aya rokok tah", setelah merokok malam tambah sepi. Kain rurub yg tadi berhenti dibetis mayat masih bergerak lagi, "wuu......aaah,....reungit dia".
Total jendral mang Duradjak semalaman tdk tidur, paginya dia cerita banyak sama orang kampung, enyaan ieu mah, heran amat tah, kaen rurub mayit bet bisa nyingsat kitu nyah, orang kampung pun merasa heran.
Jawaban datang dari eyang Banten, tingali kaen rurubna aya benangan tah. Mang Duradjak yg penasaran memeriksa kain rurub, "dasar dia kak Usin, aya benang hideungan tah juruna", lain kadek tah ku golok dia djak.
0411. JAWARA KAMPUNG :
Eyang Banten remaja masih tinggal di kampung, kakak sulung badanya besar dan tinggi, makanya dipanggil mak Akung, semua adik2 patuh padanya, maklum keluarga ini ditinggal meninggal bpk sejak masih kecil, jadi mak Akung ini yg bertindak sebagai bpk kecil.
Dia orang ke2 setelah ibu Ukit (bao perempuan) yg paling tahu tentang perilaku adik2-nya. Sore ini mau berangkat ke kondangan pengajian, setelah mandi dan berdandan rapih, dia meraih baju taqwa yg tergantung, sekali lagi melihat dicermin, setelah mantap dia berangkat.
Dijln masih didepan rumah dia merogoh tembakau dan daun kawung dari saku kirinya, setelah dilinting dan diselipkan dibibir dia merogoh saku kanan, dia melompat.... melepas baju taqwa kemudian dilemparkan.
Dia bergegas kembali kerumah mencari............. tetapi tdk ketemu, kemudian duduk di-bale2 bersandar kedinding bilik bambu, sekarang tdk ada lagi selera merokok, dia hanya diam dan diam.
Menjelang magrib eyang Banten pulang kerumah, "kadieu dia Sin", dipanggil kakanya eyang datang merunduk, aya naon tah kak, kadieu bae.
Kemudian kedua tangannya diikat tambang pengikat kambing, dibawa kejalan, deuk kamana tah kak, "kadieu sakeudeung", eyang dituntun keujung kampung, ada makam yg rimbun dg pohon dan belukar, kemudian dibawa masuk, sekarang eyang sadar dia akan mendapat hukuman.
Kedua kaki dan tangannya diikat ke pokok pohon nangka, dan gelap malam mulai menyelimuti seluruh kampung.
Pagi hari mak akung baru datang menjemput membuka ikatan dan eyang dibawa pulang, selesai makan baru eyang cerita, kami mah teu sieun ku kuburan jeung ku bobongkong.
Ngan sapeuting teu bisa sare dikurubut nyamuk, leungeun teu bisa dipake ngageprak.
Yg bikin heran, mak akung badanya besar tinggi, ternyata lari ter-birit2 melemparkan baju, hanya kkrn merogoh anak tikus yg masih merah disaku baju taqwanya.
Sekali lagi, ketakutan memang milik semua orang, termasuk jawara kampung ini.
Dia orang ke2 setelah ibu Ukit (bao perempuan) yg paling tahu tentang perilaku adik2-nya. Sore ini mau berangkat ke kondangan pengajian, setelah mandi dan berdandan rapih, dia meraih baju taqwa yg tergantung, sekali lagi melihat dicermin, setelah mantap dia berangkat.
Dijln masih didepan rumah dia merogoh tembakau dan daun kawung dari saku kirinya, setelah dilinting dan diselipkan dibibir dia merogoh saku kanan, dia melompat.... melepas baju taqwa kemudian dilemparkan.
Dia bergegas kembali kerumah mencari............. tetapi tdk ketemu, kemudian duduk di-bale2 bersandar kedinding bilik bambu, sekarang tdk ada lagi selera merokok, dia hanya diam dan diam.
Menjelang magrib eyang Banten pulang kerumah, "kadieu dia Sin", dipanggil kakanya eyang datang merunduk, aya naon tah kak, kadieu bae.
Kemudian kedua tangannya diikat tambang pengikat kambing, dibawa kejalan, deuk kamana tah kak, "kadieu sakeudeung", eyang dituntun keujung kampung, ada makam yg rimbun dg pohon dan belukar, kemudian dibawa masuk, sekarang eyang sadar dia akan mendapat hukuman.
Kedua kaki dan tangannya diikat ke pokok pohon nangka, dan gelap malam mulai menyelimuti seluruh kampung.
Pagi hari mak akung baru datang menjemput membuka ikatan dan eyang dibawa pulang, selesai makan baru eyang cerita, kami mah teu sieun ku kuburan jeung ku bobongkong.
Ngan sapeuting teu bisa sare dikurubut nyamuk, leungeun teu bisa dipake ngageprak.
Yg bikin heran, mak akung badanya besar tinggi, ternyata lari ter-birit2 melemparkan baju, hanya kkrn merogoh anak tikus yg masih merah disaku baju taqwanya.
Sekali lagi, ketakutan memang milik semua orang, termasuk jawara kampung ini.
0492. YAA SALAAAAM :
Datang musim buah dukuh, anak2 gadis sedang ngumpulin buah yg berjatuhan kala dipetik, "maneuu diis (maksudnya gadis) lah matang galeuu", kata mang Salam dan dia panjat pohon dukuh.
"Ambiee yg matang mang", yg maneuu, "yg itu tuuuuh, enduuu Salam niiih", yg maneuuu diis.
Dia pura2 mencari buah dukuh dg kain sarung sdh dililitkan dileher, jadilah pantat lengkap dg burung dan kedua telornya bergelayutan, tdk persis banget sih sama buah dukuh.
"Mang buah kweni di depan madrasah itu lah pada matang auuh", auh, payou aku panjat keuh. Berangkatlah mang Salam diiringi anak2 gadis, begitu sampai dibawah pohon kweni, dia melorotkan celana dan memanjat pokok kweni tanpa celana.
Buah kweni berjatuhan tapi tdk ada anak gadis yg mengambil buahnya, "dasar mang Salam lah gileuu", dan merekapun meninggalkannya, tinggal lah mang Salam dg buah kweni matang seberunang.
Sebenarnya masih ada kawannya iya pak mantri Ripto, orang Jawa juga, yg ini istrinya (teh Rumput) orang Serang. Kalau melihat anak2 gadis lewat teh Rumput manggil2, "Diis lihat kakang mu tuuh".
Iya suaminya duduk berjongkok didepan pintu rumah, dg kain sarung yg tergulung, burung yg bertelor sedang "ngisis bulu", "dasar mantri Ripto".
"Ambiee yg matang mang", yg maneuu, "yg itu tuuuuh, enduuu Salam niiih", yg maneuuu diis.
Dia pura2 mencari buah dukuh dg kain sarung sdh dililitkan dileher, jadilah pantat lengkap dg burung dan kedua telornya bergelayutan, tdk persis banget sih sama buah dukuh.
"Mang buah kweni di depan madrasah itu lah pada matang auuh", auh, payou aku panjat keuh. Berangkatlah mang Salam diiringi anak2 gadis, begitu sampai dibawah pohon kweni, dia melorotkan celana dan memanjat pokok kweni tanpa celana.
Buah kweni berjatuhan tapi tdk ada anak gadis yg mengambil buahnya, "dasar mang Salam lah gileuu", dan merekapun meninggalkannya, tinggal lah mang Salam dg buah kweni matang seberunang.
Sebenarnya masih ada kawannya iya pak mantri Ripto, orang Jawa juga, yg ini istrinya (teh Rumput) orang Serang. Kalau melihat anak2 gadis lewat teh Rumput manggil2, "Diis lihat kakang mu tuuh".
Iya suaminya duduk berjongkok didepan pintu rumah, dg kain sarung yg tergulung, burung yg bertelor sedang "ngisis bulu", "dasar mantri Ripto".
0491. YAA SALAAAAM :
kisah ini penting diceritakan krn boleh jadi tdk selalu ada di sembarang tempat dan sembarang generasi, iya mang Salam tiang Gombong Jawa Tengah, tinggal di Lampung Utara, adiknya mang Tarpadi tetangga sebelah rumah.
Kalau kakanya orang yg santun, tekun bekerja (tukang kayu), taat beribadah, nah adiknya lain lagi, pendiam tdk banyak bicara dan agak pemalas. Kerjanya diam saja, terutama kalau sdh melihat anak2 gadis perawan mau lewat.
Dia akan diam saja duduk diatas "sasak" jalan kerumahnya, tepatnya jongkok dg (maaf) pantat dan telor burung yg terbuka. Dia akan tetap diam membisu seribu basa, walaupun anak2 gadis itu lari berhamburan.
"Endu mang Salam nih pantatnya jengoaan, teh Rumsinah mang Salam tuuuh", dasar jemeu gileu Salam tuuh, kata istrinya.
Kalau kakanya orang yg santun, tekun bekerja (tukang kayu), taat beribadah, nah adiknya lain lagi, pendiam tdk banyak bicara dan agak pemalas. Kerjanya diam saja, terutama kalau sdh melihat anak2 gadis perawan mau lewat.
Dia akan diam saja duduk diatas "sasak" jalan kerumahnya, tepatnya jongkok dg (maaf) pantat dan telor burung yg terbuka. Dia akan tetap diam membisu seribu basa, walaupun anak2 gadis itu lari berhamburan.
"Endu mang Salam nih pantatnya jengoaan, teh Rumsinah mang Salam tuuuh", dasar jemeu gileu Salam tuuh, kata istrinya.
NGABUBURIT : 04041. BUAH PARASI :
Pergi keladang kebun melinjo dan durian, dibawahnya terhampar tanaman liar perdu Parasi.
Perdu2-an gulma sejenis salak tdk berduri, tingginya dua jengkal, mayang buahnya sebesar ujung kelingking, berisi 3/4 buah berkamar 3.
Isi buahnya berbiji hitam dibungkus daging buah berwarna putih seperti jeli, baunya harum, rasanya manis.
Disisir seputar kebun, dicari mayang buah yg masak dan ranum, ditenpatkan didalam cayut kecil mainan anak.
"Tuh dikebon kula buah parasi mayak, kamari eta karak dibabad", kata ma Ambi, keponakan uyut kebunnya bersebelahan.
Rasa buah Parasi manisnya hanya selintas, tapi, ini tapinya, setelah makan buah ini, setiap kita minum air putih, terasa maniiis, tak habis-habis.
Rasa inilah yg membuat anak2 kampung heboh, rasa istimewa dan ajaib, (untuk ukuran di kampung) waktu itu.
Bahkan anak2 kota, dari Bogor kalau pulang mudik ke Pandeglang, heboh juga, ada lebihnya, mereka membawa perdunya dalam pot, "buat ditanam didepan rumah".
Perdu2-an gulma sejenis salak tdk berduri, tingginya dua jengkal, mayang buahnya sebesar ujung kelingking, berisi 3/4 buah berkamar 3.
Isi buahnya berbiji hitam dibungkus daging buah berwarna putih seperti jeli, baunya harum, rasanya manis.
Disisir seputar kebun, dicari mayang buah yg masak dan ranum, ditenpatkan didalam cayut kecil mainan anak.
"Tuh dikebon kula buah parasi mayak, kamari eta karak dibabad", kata ma Ambi, keponakan uyut kebunnya bersebelahan.
Rasa buah Parasi manisnya hanya selintas, tapi, ini tapinya, setelah makan buah ini, setiap kita minum air putih, terasa maniiis, tak habis-habis.
Rasa inilah yg membuat anak2 kampung heboh, rasa istimewa dan ajaib, (untuk ukuran di kampung) waktu itu.
Bahkan anak2 kota, dari Bogor kalau pulang mudik ke Pandeglang, heboh juga, ada lebihnya, mereka membawa perdunya dalam pot, "buat ditanam didepan rumah".
MULAN : 04055. GEMAH RIPAH :
Gemah ripah loh jinawi, toto tengtrem kerto rahardjo, tdk
identik dg banyak uang dan gajih tinggi.
Jika harga kebutuhan pokok melambung tinggi, kebutuhan usaha biaya tinggi, pedagang tetap merugi, apalagi pembeli tak berdasi.
Jaman dahulu hidup masyarakat jauh lebih tentram, anak2 sukacita bermandi sinar bulan purnama, bahkan masih bisa berkontribusi dalam membangun kebutuhan warga.
Setiap warga memiliki,
rumah sendiri,
cukup menyediakan kukusan ubi, hasil berbagi,
lahan tetangga yg baik budhi.
Sungguh masyarakat kita pernah hidup makmur, sepi paling towong rampog, dahulu sekali, alhamduliIllah.
identik dg banyak uang dan gajih tinggi.
Jika harga kebutuhan pokok melambung tinggi, kebutuhan usaha biaya tinggi, pedagang tetap merugi, apalagi pembeli tak berdasi.
Jaman dahulu hidup masyarakat jauh lebih tentram, anak2 sukacita bermandi sinar bulan purnama, bahkan masih bisa berkontribusi dalam membangun kebutuhan warga.
Setiap warga memiliki,
rumah sendiri,
cukup menyediakan kukusan ubi, hasil berbagi,
lahan tetangga yg baik budhi.
Sungguh masyarakat kita pernah hidup makmur, sepi paling towong rampog, dahulu sekali, alhamduliIllah.
MULAAN : 04054. MENDIRIKAN RUMAH SWADAYA :
Menjelang istirahat siang, kayu adegan (tiang dan kuda2 lengkap) sudah dipasak dan tumpuk ditengah area bangunan, batu tatapakan sudah duduk ditempatnya masing2.
Siang hari seluruh pekerja swakarsa selesai makan, mereka siap2 mendirikan adegan bagian per bagian, kemudian ditopang bambu panjang yg dipanjang pasak bambu kedalam tanah.
Sekarang tinggal memasangkan kayu gordeng, pamikul dan pengheureut, kemudian dipasangkan siku2, dan rangka bangunan sudah berdiri dg kokoh.
Dipasangkan kaso2 bambu temen yg diikat dg tangbang injuk, kemudian atap kiray dipasangkan, dan rumah pun sudah teduh, menjelang ashar dinding anyaman bambu dan lantai palupuh (bambu juga), selesai terpasang.
Rumah sudah layak huni, sekarang tinggal serah terima, (apa yaa yg diserah terimakan), ooh, ini ada tambang injuk sisa.
Ahirnya rumah swakarsa selesai, upacara serah terima "tambang injuk sisa", disaksikan orang sekampung, disambut tepuk tangan.
Siang hari seluruh pekerja swakarsa selesai makan, mereka siap2 mendirikan adegan bagian per bagian, kemudian ditopang bambu panjang yg dipanjang pasak bambu kedalam tanah.
Sekarang tinggal memasangkan kayu gordeng, pamikul dan pengheureut, kemudian dipasangkan siku2, dan rangka bangunan sudah berdiri dg kokoh.
Dipasangkan kaso2 bambu temen yg diikat dg tangbang injuk, kemudian atap kiray dipasangkan, dan rumah pun sudah teduh, menjelang ashar dinding anyaman bambu dan lantai palupuh (bambu juga), selesai terpasang.
Rumah sudah layak huni, sekarang tinggal serah terima, (apa yaa yg diserah terimakan), ooh, ini ada tambang injuk sisa.
Ahirnya rumah swakarsa selesai, upacara serah terima "tambang injuk sisa", disaksikan orang sekampung, disambut tepuk tangan.
MULAAN : 04053. TATAL RIMBASAN KAYU :
Jaman dahulu, orang bangun rumah tdk perlu ngutang ke material atau toko besi, cukup dg kukusan umbi2-an, boleh juga ditambah buah2-an, jagung muda, pisang atau labu besar.
Atap kiraynya sudah numpuk hasil mulan anak 2 kemaren malan, ini tambang injuk utk pengikatnya hasil kerjaan mulan tadi malam.
Hari ini yg punya rumah sdh masak untuk banyak pekerja swakarsa, mendirikan rumah, tambahannya ada tembakau dan daun kawung lintingan, ada gula kawung dan kopi.
Ada ahlinya, (baas), tukang kayu yg mengatur bentuk dan ukuran rumah, tiang dan kuda2 dan mengatur material (kayu) untuk dikerjakan pam swakarsa.
Ada yang kebagian merapihkan bentuk dan ukuran kayu, yang dipasangkan melintang diantara kaki2 sengkala, kemudian disipat sesuai ukuran dan dirimbas.
Limbah kayu rimbasan paling laku dipunguti anak2 sebaya, untuk bahan bakar berdiang pagi ditungku kayu, "oooy aku dapat tatal panjang", (tatal adalah limbah rimbasan kayu).
Atap kiraynya sudah numpuk hasil mulan anak 2 kemaren malan, ini tambang injuk utk pengikatnya hasil kerjaan mulan tadi malam.
Hari ini yg punya rumah sdh masak untuk banyak pekerja swakarsa, mendirikan rumah, tambahannya ada tembakau dan daun kawung lintingan, ada gula kawung dan kopi.
Ada ahlinya, (baas), tukang kayu yg mengatur bentuk dan ukuran rumah, tiang dan kuda2 dan mengatur material (kayu) untuk dikerjakan pam swakarsa.
Ada yang kebagian merapihkan bentuk dan ukuran kayu, yang dipasangkan melintang diantara kaki2 sengkala, kemudian disipat sesuai ukuran dan dirimbas.
Limbah kayu rimbasan paling laku dipunguti anak2 sebaya, untuk bahan bakar berdiang pagi ditungku kayu, "oooy aku dapat tatal panjang", (tatal adalah limbah rimbasan kayu).
04052. ATAP KIRAY :
"hee barudak kadarieu yeuh, aya kulub cau", memang benar diatas nyiru, ada kulub singkong, talas dan pisang, masih berasap, anak2 berkumpul bersantap malam.
"Sok eta jajalonna sina ngabaris, ngarah teu kacolok dia, tah welitna, sing rapih nyah nganyam daun kirayna".
Selesai makan anak2 dibagi bilah bambu (jajalon) 10 pasang lengkap dg pengikatnya (welit). Daun kiraynya bertumpuk rapih sudah dipangkas dari pelepahnya sama mang Jama.
Mereka sibuk, membeberkan daun kiray, menyusun dan melipatnya dibilah bambu, kemudian dijait tali pengikat rotan, berderet rapih sampai ke ujung bilah bambu.
Pelajaran dan kaderisasi dari generasi ke generasi, pembuat atap kiray swadaya, baham bakunya, batang kiray tumbuh berderet sepanjang tepian kali Cabuhan.
"Ke malem isuk urang ngagintir injukna nya dak".
"Sok eta jajalonna sina ngabaris, ngarah teu kacolok dia, tah welitna, sing rapih nyah nganyam daun kirayna".
Selesai makan anak2 dibagi bilah bambu (jajalon) 10 pasang lengkap dg pengikatnya (welit). Daun kiraynya bertumpuk rapih sudah dipangkas dari pelepahnya sama mang Jama.
Mereka sibuk, membeberkan daun kiray, menyusun dan melipatnya dibilah bambu, kemudian dijait tali pengikat rotan, berderet rapih sampai ke ujung bilah bambu.
Pelajaran dan kaderisasi dari generasi ke generasi, pembuat atap kiray swadaya, baham bakunya, batang kiray tumbuh berderet sepanjang tepian kali Cabuhan.
"Ke malem isuk urang ngagintir injukna nya dak".
MULAAN : 04051. NENEK ANTEH DAN KUCINGNYA :
Memasuki musim kemarau, malam2 terang bulan, tanggal 14 lagi, anak2 dikampung tdk buru2 tidur, mereka diluar rumah dan bermain dihalaman bermadikan sinar bulan.
Sinar yg ajaib, bisa menerangi gelapnya malam, dan membawa perubahan pada tampilan wajah teman2, (wanita), seakan mendadak cantik, (bukan mendadak dangdut), yaa.
Bulannya sendiri nampak bulat terang, dikeremangan permukaannya menampakan nenek Anteh dan kucingnya, masih kucing yg dulu, mungkin berkelamin jantan, soale tdk ber-anak2.
Dilihat terus-menerus tanpa kedip, bulatan bulan dan sinarnya, membentuk selubung fatamorgana, yg menerus tersambung ke hadapan kita, tdk salah kalau di klaim milik berdua, sama anak muda yg sedang memadu cinta.
Sinar yg ajaib, bisa menerangi gelapnya malam, dan membawa perubahan pada tampilan wajah teman2, (wanita), seakan mendadak cantik, (bukan mendadak dangdut), yaa.
Bulannya sendiri nampak bulat terang, dikeremangan permukaannya menampakan nenek Anteh dan kucingnya, masih kucing yg dulu, mungkin berkelamin jantan, soale tdk ber-anak2.
Dilihat terus-menerus tanpa kedip, bulatan bulan dan sinarnya, membentuk selubung fatamorgana, yg menerus tersambung ke hadapan kita, tdk salah kalau di klaim milik berdua, sama anak muda yg sedang memadu cinta.
IBU UKIT NENGOK CUCU : 0473. KONGKORONGOK :
Naon atuh En eta aya cacandakan lumayan, bagi 2 beh bi kata nenek waktu mau berangkat ke rumah kontrakan, buah kelapa muda diikat satu ikanan 6 butir, kelapa tua tak berkulit satu cayut 8 butir.
Pisang tanduk 2 tandan ada empat sisir dlm ikatan, pisang ketan dan singkong 1 cayut, beras dan beras ketan 1 karung terigu.
Buah melinjo dan daun melinjo muda 1 kamuti, emping melinjo, emping jengkol 1 kamuti, ulen mentah dari beras ketan merah leunjeuran 1 cayut.
"Iih ieu mah lembut ulen teh En bagi bibi", ayam goreng dan ikan goreng dibungkus daun pisang kering satu kamuti, ieu cangkang tangkil dicandak ibu mah, ada asam jawa mentah, "ih keur nu hamil eta".
Naon eta dina kisa bau, "tai kotok dia", ............kongkoroooongok.
Pisang tanduk 2 tandan ada empat sisir dlm ikatan, pisang ketan dan singkong 1 cayut, beras dan beras ketan 1 karung terigu.
Buah melinjo dan daun melinjo muda 1 kamuti, emping melinjo, emping jengkol 1 kamuti, ulen mentah dari beras ketan merah leunjeuran 1 cayut.
"Iih ieu mah lembut ulen teh En bagi bibi", ayam goreng dan ikan goreng dibungkus daun pisang kering satu kamuti, ieu cangkang tangkil dicandak ibu mah, ada asam jawa mentah, "ih keur nu hamil eta".
Naon eta dina kisa bau, "tai kotok dia", ............kongkoroooongok.
IBU UKIT NENGOK CUCU : 0472. BERPELUKAAN :
Ahirnya ibu dan anak berangkat berjalan kaki diiringi dua orang tukang pikul ke Sabi Tangtu, naik delman ke Pandeglang terus naik bus jurusan Jakarta terus ke Bandung. Turun di terminal Kebon Kalapa, ada kendaraan bemo jurusan Cicadas, "eta nyah, ah embung rodana ngan 3, sieun tibalik dia".
Barang bawaan terpaksa dinaikan ke becak penuh satu becak, ibu Ukit dan eyang naik becak yg lain dan beriringan sampai ke Kebon Waru. Oh Eni na di gang Tilil bu ke urang susulan, "Ing susulan kak Eni jung".
Orang yg disusul datang berjalan dg perut besar lagi hamil sama mamah mas Amay, nenek dan neneknya nenek menangis berpelukan. Berpisah waktu masih gadis kecil, tdk dikabari nikahnya, sekarang sedang hamil mana ditinggal suaminya, entah dimana.
Ini bapa dari Lampung, ini ibu Ukit dari Pandeglang, nenek mengenalkan sama tuan rumah, ahirnya mereka duduk bersama.
Barang bawaan terpaksa dinaikan ke becak penuh satu becak, ibu Ukit dan eyang naik becak yg lain dan beriringan sampai ke Kebon Waru. Oh Eni na di gang Tilil bu ke urang susulan, "Ing susulan kak Eni jung".
Orang yg disusul datang berjalan dg perut besar lagi hamil sama mamah mas Amay, nenek dan neneknya nenek menangis berpelukan. Berpisah waktu masih gadis kecil, tdk dikabari nikahnya, sekarang sedang hamil mana ditinggal suaminya, entah dimana.
Ini bapa dari Lampung, ini ibu Ukit dari Pandeglang, nenek mengenalkan sama tuan rumah, ahirnya mereka duduk bersama.
IBU UKIT NENGOK CUCU : 0472. KUNAON TEU NYARIOS BAE JING :
Eyang datang dari Lampung mampir ke Banten mau menengok anak perempuannya yg tinggal di Bandung, ibu Ukit sibuk, pergi kekebun buah kelapa diturunkan, lihat buah pisang tanduk tua ditebang, lihat buah melinjo dipetik daunna ala sakalian dak, durian belum musimnya.
Lewat ke kolam ikan diambil, sampai dihalaman rumah ada pisang ketan tua ditebang, menengok ke kolong ayam ditangkap, ada yg lagi ngeram dipangkeng, "iih ulah etamah dak".
Didapur ada emping tangkil mentah kering simpanan dlm kaleng, ada emping jengkol mentah juga dlm kaleng, beras ketan sebelum berangkat ke kebun sdh ditanak dibuat ulen, "bawa kadieu dak".
Ibu naon eta ti kebon sagala diala, "cicing dia ibu rek ngalongok incu di Bandung", ibu deuk ngiring ka Bandung tah, "atuh heueuh dia", ih atuh kunaon teu nyarios beh, terpaksa eyang Banten ikut sibuk menyipkan barang bawaan.
Lewat ke kolam ikan diambil, sampai dihalaman rumah ada pisang ketan tua ditebang, menengok ke kolong ayam ditangkap, ada yg lagi ngeram dipangkeng, "iih ulah etamah dak".
Didapur ada emping tangkil mentah kering simpanan dlm kaleng, ada emping jengkol mentah juga dlm kaleng, beras ketan sebelum berangkat ke kebun sdh ditanak dibuat ulen, "bawa kadieu dak".
Ibu naon eta ti kebon sagala diala, "cicing dia ibu rek ngalongok incu di Bandung", ibu deuk ngiring ka Bandung tah, "atuh heueuh dia", ih atuh kunaon teu nyarios beh, terpaksa eyang Banten ikut sibuk menyipkan barang bawaan.
045. MANG DULKARIM ALM :
Mang Dulkarim masih saudara, orangnya pendek badannya kekar, kalau mikul karung kopi plat hijau bisa 3 karung ditumpuk diatas pundak sekali angkat, dipikul dari gudang dinaikan lewat titian kayu keatas truk.
Itu beban sekitar 200 kg, kata orang dia pakai susuk.
Sekarang terbaring sakit keras, sdh tdk bisa bangun tapi masih bisa ngamuk, ditidurkan didalam rumah.
"Bawa kaluar kula hareudang", dipindahkan keluar, "panas panas aya cai tah banjurkeun bae", digotong ketempat cuci badanya disiram air.
"Ah,,,, masih panas mana ka Usin teh lama amat jing", "hayang ka kandang", digotong ditidurkan di kandang kambing,,,,, kosong.
Eyang memang lagi pergi ke luar kota, tak lama datang dan langsung nengok orang yg sakit, kunaon tah dul, "ka Usin tulungan yeuh kula", heug tapi sing sabar nyah.
Eyang minta air putih dibaskom kemudian dibacakan doa, air diusapkan ke badan mang Dulkarim yg mulai lemas dan terekulai, bintil2 disekujur badannya kempes dan rata.
Mang Dulkarim membuka mata minta maaf dan menyalami saudara dan orang yg hadir, terahir dan lama memegang tangan eyang.
Sok dibantuan bari maca tasbih, "SubhanaLLah walhamduliIllah walaIlahha Illalahu Allahhu akbar walahaula walaquwata ilabiLahi aliyiladiem".
Mang Dulkarim meninggal dlm damai, diiringi doa sanak saudara dan kerabat yg hadir.
InnaliIlahi waina Ilaihi rojiun mang Dulkarim, semoga diampuni segala dosanya, diterima amal baiknya serta mendapat tempat yg baik disisi Allah.
Anak mang Dulkarim yg masih abg kecil nyeletuk, "kok wa Usin bisa yah matiin orang", ah dasar anak2.
Itu beban sekitar 200 kg, kata orang dia pakai susuk.
Sekarang terbaring sakit keras, sdh tdk bisa bangun tapi masih bisa ngamuk, ditidurkan didalam rumah.
"Bawa kaluar kula hareudang", dipindahkan keluar, "panas panas aya cai tah banjurkeun bae", digotong ketempat cuci badanya disiram air.
"Ah,,,, masih panas mana ka Usin teh lama amat jing", "hayang ka kandang", digotong ditidurkan di kandang kambing,,,,, kosong.
Eyang memang lagi pergi ke luar kota, tak lama datang dan langsung nengok orang yg sakit, kunaon tah dul, "ka Usin tulungan yeuh kula", heug tapi sing sabar nyah.
Eyang minta air putih dibaskom kemudian dibacakan doa, air diusapkan ke badan mang Dulkarim yg mulai lemas dan terekulai, bintil2 disekujur badannya kempes dan rata.
Mang Dulkarim membuka mata minta maaf dan menyalami saudara dan orang yg hadir, terahir dan lama memegang tangan eyang.
Sok dibantuan bari maca tasbih, "SubhanaLLah walhamduliIllah walaIlahha Illalahu Allahhu akbar walahaula walaquwata ilabiLahi aliyiladiem".
Mang Dulkarim meninggal dlm damai, diiringi doa sanak saudara dan kerabat yg hadir.
InnaliIlahi waina Ilaihi rojiun mang Dulkarim, semoga diampuni segala dosanya, diterima amal baiknya serta mendapat tempat yg baik disisi Allah.
Anak mang Dulkarim yg masih abg kecil nyeletuk, "kok wa Usin bisa yah matiin orang", ah dasar anak2.
044. MISRA ALM YG MALANG :
Pagi hari mau kalangan, orang Sunda ditujah sama orang Ogan, Misra yg sekarat minta dibawa kerumah eyang, darah nyembur dari tenggorokan yg hampir putus.
Seiring tarikan nafas yg ngorok, Misra berucap "Uwaaa,,, Uuusin,,,, tulungan kula", suaranya ter-putus2.
Merawat orang sekarat, sekaligus menenangkan warga desa yg mendadak tegang antar suku.
Lukanya serius dibawa kerumah sakit jauh, ditunggu orang sekampung, tdk bertahan lama menjelang sore Misra meninggal dunia, innaliIllahi waina illaihi rojiun.
Ya Allah semoga engkau menerima amal baik almarhum, mengampuni segala kesalahannya, melapangkan alam kuburnya, dan kpd keluarga yg ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kelapangan, Aamiin.
Orang sekampung berduka, malam hari, tahlilan, rumah penuh sampai keluar halaman, tengah malam orang2 baru beranjak pulang.
Seiring tarikan nafas yg ngorok, Misra berucap "Uwaaa,,, Uuusin,,,, tulungan kula", suaranya ter-putus2.
Merawat orang sekarat, sekaligus menenangkan warga desa yg mendadak tegang antar suku.
Lukanya serius dibawa kerumah sakit jauh, ditunggu orang sekampung, tdk bertahan lama menjelang sore Misra meninggal dunia, innaliIllahi waina illaihi rojiun.
Ya Allah semoga engkau menerima amal baik almarhum, mengampuni segala kesalahannya, melapangkan alam kuburnya, dan kpd keluarga yg ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kelapangan, Aamiin.
Orang sekampung berduka, malam hari, tahlilan, rumah penuh sampai keluar halaman, tengah malam orang2 baru beranjak pulang.
SONIAH : 0432. ETA DIAAA,,,,,,,:
Sekarang kakinya sdh sembuh badannya mulai pulih, Soniah dibawa kekali Kasuy malam2 dimandikan, pulang dari kali Soniah basah kuyup, "tiris amat jing mandi teh", hayang kopi haneut bere tah, sdh agak mendingan dia pulang kerumahnya.
Tak berapa lama dia datang lagi kepalanya diikat dg jarit, "ka ubaran kula sirah yeuh sakit amat jing", kunaon henteu tidagor mah.
Soniah masih galak, ulah galak geh ke ditalian dia, "ulah geh ka", tangan Soniah diikat pakai "bebengkung" ujungnya diikankat ke kayu plapon.
Sekarang Soniah tdk galak, dia bernyanyi "ayun ambing" sambil menggoyangkan kedua tangan yg diikat kekiri kekanan.
"Kendoran atuh ka ieu tangan kula cangkeul", eyang mendekat mau manjat membetulkan tali bebengkung, "eta dia,,,,,,,,, eyang loncat dan menjauh.
Tarpadi panggil eyang, tetangga dan saudara dekatnya Soniah, kesini tolong betulkan ini aku lagi tanggung, "kunaon tah", itu talinya mau dikendorkan, "moal nanaon tah", moal.
Mang Tarpadi membetulkan kain sarung, menarik kursi dan naik membetulkan tali bebengkung, memang susah dan tinggi, dia tdk melihat kebawah.
Dua tangan Soniah yg diikat "ditadahkan" seperti orang berdoa dan dijorokkan langsung ke-temngah2 isi sarung, sambil berteiak, "enggeus kebel henteu nyanggap hanjut hambeng", mang Tarpadi melompat dan berteriak "gelo dia Soniah".
Tak berapa lama dia datang lagi kepalanya diikat dg jarit, "ka ubaran kula sirah yeuh sakit amat jing", kunaon henteu tidagor mah.
Soniah masih galak, ulah galak geh ke ditalian dia, "ulah geh ka", tangan Soniah diikat pakai "bebengkung" ujungnya diikankat ke kayu plapon.
Sekarang Soniah tdk galak, dia bernyanyi "ayun ambing" sambil menggoyangkan kedua tangan yg diikat kekiri kekanan.
"Kendoran atuh ka ieu tangan kula cangkeul", eyang mendekat mau manjat membetulkan tali bebengkung, "eta dia,,,,,,,,, eyang loncat dan menjauh.
Tarpadi panggil eyang, tetangga dan saudara dekatnya Soniah, kesini tolong betulkan ini aku lagi tanggung, "kunaon tah", itu talinya mau dikendorkan, "moal nanaon tah", moal.
Mang Tarpadi membetulkan kain sarung, menarik kursi dan naik membetulkan tali bebengkung, memang susah dan tinggi, dia tdk melihat kebawah.
Dua tangan Soniah yg diikat "ditadahkan" seperti orang berdoa dan dijorokkan langsung ke-temngah2 isi sarung, sambil berteiak, "enggeus kebel henteu nyanggap hanjut hambeng", mang Tarpadi melompat dan berteriak "gelo dia Soniah".
SONIAH : 0431. EYANG PENYAYANG :
"Si Soniah teh muriang ka can ditengok tah", karek apal kula mah, orang tuanya dari Banten masih bau2 sinduk, berangkatlah eyang sekeluarga nengok ke Lapangan, ih gering naon tah bet dibelok kieu, "puguh ngaruksak ka".
Takut membahayakan orang, sama keluarganya Soniah di belok dg batang pohon pinang, pergelangan kakinya sdh berdarah dan korengan, "leupaskeun ka ieu suku kami nyeri", leupaskeun dak, tapi sing nurut nyah.
Hari "kalangan" dia berjualan dipasar, hari biasa jualan kue basah keliling kampung, ada gorengan, leupeut dan pasung, sekarang dia sakit dipasung pula, kasihan amat Soniah.
Orang gila dibawa kerumah kurus kering perut saja yg besar, memang dia lagi hamil, bere dahar tah dak , kakinya diobati sama eyang krn orang lain tak berani dekat.
Memang dia galak, ada orang lewat dimarahi, rumah orang dilempari, tapi sama eyang dia nurut, memang eyang sangat penyayang apalagi sama orang sakit,,,,,gila.
Takut membahayakan orang, sama keluarganya Soniah di belok dg batang pohon pinang, pergelangan kakinya sdh berdarah dan korengan, "leupaskeun ka ieu suku kami nyeri", leupaskeun dak, tapi sing nurut nyah.
Hari "kalangan" dia berjualan dipasar, hari biasa jualan kue basah keliling kampung, ada gorengan, leupeut dan pasung, sekarang dia sakit dipasung pula, kasihan amat Soniah.
Orang gila dibawa kerumah kurus kering perut saja yg besar, memang dia lagi hamil, bere dahar tah dak , kakinya diobati sama eyang krn orang lain tak berani dekat.
Memang dia galak, ada orang lewat dimarahi, rumah orang dilempari, tapi sama eyang dia nurut, memang eyang sangat penyayang apalagi sama orang sakit,,,,,gila.
AKU CINTA SOIMAH : 0422. BUTA,,,,,, TANYA :
Mulwadi ahirnya dibawa orang kampung kerumah eyang, "pak Usin tolong obati saya, kepala saya pusing pak Usin, tapi jangan diikat", leupaskeun eta talina dak, tapi sing nurut nyah, "iya pak Usin".
Krn dirumah adanya nenek, masih gadis, tiap hari sodorkan makan dan minum.
Ada perubahan dari tingkah Mulwadi, sekarang tdk berlari naik motor, keliling kampung.
Sebagai gantinya dia keliling rumah eyang sambil ngintip nenek, dari celah jendela, dia membisikan yel-yel baru "aku cinta Nur’aini, aku cinta Nur’aini", dasar orang gila.
Tak lama datang bertamu 3 orang pria dari Surabaya, "saya mau menjemput Mulwadi pak", oh ya silahkan.
Mulwadi pun pulang kampung :
Dia melepas masa muda,
di(bukit Punggur) belantara,
memelihara tajar lada,
penuh cinta.
Buta,,,,,,,,tanya,
dan pulang ke Surabaya,
dg luka menganga,
didada.
Krn dirumah adanya nenek, masih gadis, tiap hari sodorkan makan dan minum.
Ada perubahan dari tingkah Mulwadi, sekarang tdk berlari naik motor, keliling kampung.
Sebagai gantinya dia keliling rumah eyang sambil ngintip nenek, dari celah jendela, dia membisikan yel-yel baru "aku cinta Nur’aini, aku cinta Nur’aini", dasar orang gila.
Tak lama datang bertamu 3 orang pria dari Surabaya, "saya mau menjemput Mulwadi pak", oh ya silahkan.
Mulwadi pun pulang kampung :
Dia melepas masa muda,
di(bukit Punggur) belantara,
memelihara tajar lada,
penuh cinta.
Buta,,,,,,,,tanya,
dan pulang ke Surabaya,
dg luka menganga,
didada.
AKU CINTA SOIMAH : 0421. "PAK HAJI INGKAR JANJI" :
Pemuda Jawa Surabaya (tenaga penyuluh pertanian) Mulwadi namanya, kekar badanya dan sopan sikapnya, ketemu pak haji orang Lampung beranak dara cantik, ahirnya sepakat ngurus kebun kopi dan lada ribuan tajar.
Berangkatlah Mulwadi muda diantar pak haji kekaki gunung Punggur, bertahun mengurus tanaman kopi dan tajar lada yg luas dan sepi. Berkali panen kopi dan lada, kian musim kian banyak hasilnya, krn dia pelihara kebun dg kesungguhan dan kecintaan.
Kabar burung sampai juga keladang sunyi, Soimah anak dara pak haji punya pacar, diantar rasa penasaran Mulwadi peladang turun gunung dan naik kerumah tinggi buka suara.
Pak haji saya sdh urus kebun bpk dg baik dan hasilnya saya setorkan semuanya kpd bpk, sudilah kiranya pak haji memenuhi janji utk menikahkan saya dg anak perawan bapak.
Pak haji "ingkar janji", Mulwadi sang peladang, turun dari rumah tinggi, berdiri mengangkang ditengah jln dan tengah kampung, dia slaag engkol motor dan meraungkan bunyi motor dari mulutnya.
Dia berlari sekencangnya sambil membungkuk diatas sepeda motor hayalannya, berulang kali dan ber-hari2, tak lupa disetiap penghentian dan putaran meneriakan yel-yel, "Aku cinta Soimah, Aku cinta Soimah".
Keruan saja anak dara pak haji namanya Soimah diungsikan ketempat jauh.
Berangkatlah Mulwadi muda diantar pak haji kekaki gunung Punggur, bertahun mengurus tanaman kopi dan tajar lada yg luas dan sepi. Berkali panen kopi dan lada, kian musim kian banyak hasilnya, krn dia pelihara kebun dg kesungguhan dan kecintaan.
Kabar burung sampai juga keladang sunyi, Soimah anak dara pak haji punya pacar, diantar rasa penasaran Mulwadi peladang turun gunung dan naik kerumah tinggi buka suara.
Pak haji saya sdh urus kebun bpk dg baik dan hasilnya saya setorkan semuanya kpd bpk, sudilah kiranya pak haji memenuhi janji utk menikahkan saya dg anak perawan bapak.
Pak haji "ingkar janji", Mulwadi sang peladang, turun dari rumah tinggi, berdiri mengangkang ditengah jln dan tengah kampung, dia slaag engkol motor dan meraungkan bunyi motor dari mulutnya.
Dia berlari sekencangnya sambil membungkuk diatas sepeda motor hayalannya, berulang kali dan ber-hari2, tak lupa disetiap penghentian dan putaran meneriakan yel-yel, "Aku cinta Soimah, Aku cinta Soimah".
Keruan saja anak dara pak haji namanya Soimah diungsikan ketempat jauh.
EYANG BANTEN : 0461. MENITI JALUR TRADISI :
Sampai awal th 1950-an masih tinggal di Jakarta tepatnya di daerah Tubagus Angke, eyang isteri kerja di pabrik sabun Unilever, eyang laki kerja di pelabuhan Tanjung Periuk sebagai kepala kuli, ini adalah jalur karier tradisi Banten.
Setelah tamat mengaji dan berguru ilmu anak muda Banten jaman dahulu akan berangkat ke Jakarta, tepatnya ke Tanjung Periuk. Jika sehat badannya dan kuat tenaganya mereka akan mengawali karir menjadi kuli pelabuan mengangkat dan menurunkan barang dari dan ke kapal.
Jika dia cerdik, pandai bergaul dan pilih tanding dia akan menjadi Warnen dari saudara sedarah atau seperguruan. Jika jujur dan mujur dipercaya sama tauke dan diturut anak buah, akan terus naik menjadi kepala kuli. Mereka menguasai gudang2 barang biasanya dari tauke2 cina, penuh persaingan dan intrik dlm memperebutkan hak ulayat pergudangan.
Setelah tamat mengaji dan berguru ilmu anak muda Banten jaman dahulu akan berangkat ke Jakarta, tepatnya ke Tanjung Periuk. Jika sehat badannya dan kuat tenaganya mereka akan mengawali karir menjadi kuli pelabuan mengangkat dan menurunkan barang dari dan ke kapal.
Jika dia cerdik, pandai bergaul dan pilih tanding dia akan menjadi Warnen dari saudara sedarah atau seperguruan. Jika jujur dan mujur dipercaya sama tauke dan diturut anak buah, akan terus naik menjadi kepala kuli. Mereka menguasai gudang2 barang biasanya dari tauke2 cina, penuh persaingan dan intrik dlm memperebutkan hak ulayat pergudangan.
EYANG BANTEN : 0462. JADI KEPALEE :
Pertengahan th 50-an pergi ke Lampung meninggalkan ibu nenek dan nenek yg masih kecil, dan terus sampai ke kecamatan Kasuy ini, keadaannya masih sepi dan terpencil, sehingga sulit dilacak orang. Pelarian ini kata ibu nenek berkaitan dg intrik dan persaingan itu.
Disini sdh ada saudara yg tinggal lebih dahulu uwa Jahra namanya, kerjanya tukang cukur, eyang pun memulai karier baru sebagai tukang cukur.
Karena eyang pandai bergaul jujur dan pilih tanding, disini mulai banyak dikenal orang, di Kasuy juga banyak kuli angkut karung kopi dan lada orang Banten dan sekitarnya, mereka banyak tahu dan kenal dg eyang.
Ahirnya bukan hanya orang Banten yg kenal baik sama eyang, semua orang Sunda, Jawa dan orang Lampung baik dan mendukung eyang menjadi Kepalee.
Kala datang warga trasmigrasi orang Bali korban gunung Agung, mereka menempati wilayah kelurahan Desa Kasui, Kepala Sukunya bapak Surya mereka juga baik sekali sama eyang.
Disini sdh ada saudara yg tinggal lebih dahulu uwa Jahra namanya, kerjanya tukang cukur, eyang pun memulai karier baru sebagai tukang cukur.
Karena eyang pandai bergaul jujur dan pilih tanding, disini mulai banyak dikenal orang, di Kasuy juga banyak kuli angkut karung kopi dan lada orang Banten dan sekitarnya, mereka banyak tahu dan kenal dg eyang.
Ahirnya bukan hanya orang Banten yg kenal baik sama eyang, semua orang Sunda, Jawa dan orang Lampung baik dan mendukung eyang menjadi Kepalee.
Kala datang warga trasmigrasi orang Bali korban gunung Agung, mereka menempati wilayah kelurahan Desa Kasui, Kepala Sukunya bapak Surya mereka juga baik sekali sama eyang.
041. DAGING PEUSING :
Nenek tdk punya cerita tentang kakeknya di Banten almarhum, krn tdk sempat ketemu. Waktu eyang Banten masih remaja, kaka eyang mak Akung panggilannya masih mondok di pesantren dan bpk eyang meninggal.
Ya Allah semoga engkau menerima amal baiknya, mengampuni segala kesalahannya, melapangkan alam kuburnya serta menyayangi mereka, krn mereka tlh mengasihi kami waktu kami masih kecil, amien.
Ada sepenggal cerita, waktu bapak eyang sedang sakit, dia mau makan daging peusing, orang yg sehat sibuk mencari peusing, untung waktu itu masih banyak dan dapat.
Ketika mau disembelih peusing mengerang, eeeiiiih........... eeeeiiiih.........., "sora naon eta", tanya bapak eyang, eta peusing rek dipeuncit , "ih ulah atuh karunya, los teuing leupaskeun bae".
Sampai meninggal tdk sempat makan daging peusing.
Ya Allah semoga engkau menerima amal baiknya, mengampuni segala kesalahannya, melapangkan alam kuburnya serta menyayangi mereka, krn mereka tlh mengasihi kami waktu kami masih kecil, amien.
Ada sepenggal cerita, waktu bapak eyang sedang sakit, dia mau makan daging peusing, orang yg sehat sibuk mencari peusing, untung waktu itu masih banyak dan dapat.
Ketika mau disembelih peusing mengerang, eeeiiiih........... eeeeiiiih.........., "sora naon eta", tanya bapak eyang, eta peusing rek dipeuncit , "ih ulah atuh karunya, los teuing leupaskeun bae".
Sampai meninggal tdk sempat makan daging peusing.
Langganan:
Postingan (Atom)