Senin, 06 November 2017

0414. MANG DURALI :

Ini cerita jawara Banten yg lain, dia ahli ngobatin orang digigit ular pawang ular, namanya mang Durali, pagi2 berangkat ber-iringan dg anak sekolah. rek kamana mang tanya anak2, rek kainya ka Pandeglang, rek ngubaran nu dipacok oray dak.

Dia biasa dipanggil ke-mana2  mengobati orang digigit ular, orang yg baru digigit ular cukup ditanya jenis ularnya, kemudian luka bekas gigitan siisap dan dimuntahkan, biasanya terus sembuh. Kalau gigitannya sdh lama harus dibantu dg ramuan.

Anak2 melihat ke saku kemeja mang Durali, "mang cik nginjeum tah pulpen", is ulah, ada pulpen Erro buatan germany, Tha Thung buatan china, ada Pilot buatan Japan, "hiji we". Mang durali kalah dikeroyok permintaan anak2, dia menarik pulpen Erro dibuka dan dibolak balik batangnya, euh ieu mah euweuh mangsian dak.

Pulpen dimasukkan lagi, menarik pulpen / balpoint Pilot, euweuh eusian dak, pulpen Tha Thung ternyata hanya tutupnya saja tdk ada batangnya.

Disaku kemejanga berderet pulpen berbagai merk dan pabrikan tapi tdk ada yg dpt dipakai menulis, "mang durali rek kumaha nulisna atuh pulpenna kosong kabeh jing", lah da kula na ge teu bisa nulis ieuh dak, oooh.

0413. JAWARA TULEN :

Ini cerita jawara Banten tulen, dia menjabat rurah sepanjang sejarah, rumah tinggalnya sedikit diatas saluran air, dibawah anak2 berenang diair banjir, tak lama terdengar hiruk pikuk dan orang2 berkumpul.

Ieu si pulan titeuleum, beberapa anak dewasa menggotong anak yg sdh lemas, "balikeun dia", anak yg tenggelam dipanggu terbalik sambil dibawa berlari, banyak keluar air dari mulut dan hidung.

Setelah ditidurkan anak masih tergolek lemas tak sadar,
rurah Muhadi alm terbangun dari tidur siang datang ter-gopoh2, melihat anak tergolek lemas, jiwa jawaranya terpanggil.

Tina ceuli can kaluar cai tah, "acan geh", halik dia, kepala anak dimiringkan dan ke2 telinganya diisap sama rurah Muhadi, telinga kirinya diisap berulang, "ieu mah mepeg jing".

Dan telinga diisap lebih kuat, "naeun tah dak gening ketel", semua anak mundur menjauh, mereka tahu telinga kiri si pulan memang congean, puaaah dia.

Rurah Muhadi lari ter-birit2, mendengar ribut2 yg pingsan pelan2 terbangun dan sadar, dia tdk tahu rurah Muhadi muntah2 isi perutnya keluar semua.

Sejak saat itu dia tdk mau lagi minum susu kental manis, meski hanya ditawari, seketika akan hilang kesaktian (jawaranya), muntah dan lemas.

0412. MANG DURADJAK :

Mang Duradjak orang Banten tinggal di talang Dalung dekat sungai Way Umpu, ke-mana2 memakai baju kampret hitam dan celana pangsi, tak lupa golok dipinggang, jawara lah dari Banten walau tinggal di Lampung.

Malam itu jasad mang Misra dibaringkan di pangkeng rumah eyang Banten, menunggu keluarga dan penguburan esok hari, ditengah rumah orang mengaji sudah mulai pulang satu2. Djak tungguan tah mayit dipangkeng, "iih enya atuh kak", eyang sendiri sdh tidur diranjang.

Mang Duradjak duduk ditunjangeun mayat sendirian.
Orang mengaji sdh pd pulang, malam makin larut sementara sumbu cempor minyak tanah mulai berkerak, sinarnya makin redup, samar2 telihat kain batik rurub mayat bergerak sedikit tersingkap keatas, "wu.....aaah.......... teh aya kopi tah, tunduh amat jing", setelah minum kopi malam sepi lagi.

Tambah malam tambah sepi sinar lampu makin redup, kain batik rurub yg tadi berhenti dibatas mata kaki mayat, kelihatan bergerak lagi, "wuu..........aaah, aya rokok tah", setelah merokok malam tambah sepi. Kain rurub yg tadi berhenti dibetis mayat masih bergerak lagi,  "wuu......aaah,....reungit dia".

Total jendral mang Duradjak semalaman tdk tidur, paginya dia cerita banyak sama orang kampung, enyaan ieu mah, heran amat tah, kaen rurub mayit bet bisa nyingsat kitu nyah, orang kampung pun merasa heran.

Jawaban datang dari eyang Banten, tingali kaen rurubna aya benangan tah. Mang Duradjak yg penasaran memeriksa kain rurub, "dasar dia kak Usin, aya benang hideungan tah juruna", lain kadek tah ku golok dia djak.

0411. JAWARA KAMPUNG :

Eyang Banten remaja masih tinggal di kampung, kakak sulung badanya besar dan tinggi, makanya dipanggil mak Akung, semua adik2 patuh padanya, maklum keluarga ini ditinggal meninggal bpk sejak masih kecil, jadi mak Akung ini yg bertindak sebagai bpk kecil.

Dia orang ke2 setelah ibu Ukit (bao perempuan) yg paling tahu tentang perilaku adik2-nya. Sore ini mau berangkat ke kondangan pengajian, setelah mandi dan berdandan rapih, dia meraih baju taqwa yg tergantung, sekali lagi melihat dicermin, setelah mantap dia berangkat.

Dijln masih didepan rumah dia merogoh tembakau dan daun kawung dari saku kirinya, setelah  dilinting dan diselipkan dibibir dia merogoh saku kanan, dia melompat.... melepas baju taqwa kemudian dilemparkan.

Dia bergegas kembali kerumah mencari............. tetapi tdk ketemu, kemudian duduk di-bale2 bersandar kedinding bilik bambu, sekarang tdk ada lagi selera merokok, dia hanya diam dan diam.

Menjelang magrib eyang Banten pulang kerumah, "kadieu dia Sin", dipanggil kakanya eyang datang merunduk, aya naon tah kak, kadieu bae.

Kemudian kedua tangannya diikat tambang pengikat kambing, dibawa kejalan, deuk kamana tah kak, "kadieu sakeudeung", eyang dituntun keujung kampung, ada makam yg rimbun dg pohon dan belukar, kemudian dibawa masuk, sekarang eyang sadar dia akan mendapat hukuman.

Kedua kaki dan tangannya diikat ke pokok pohon nangka, dan gelap malam mulai menyelimuti seluruh kampung.

Pagi hari mak akung baru datang menjemput membuka ikatan dan eyang dibawa pulang, selesai makan baru eyang cerita, kami mah teu sieun ku kuburan jeung ku bobongkong.

Ngan sapeuting teu bisa sare dikurubut nyamuk, leungeun teu bisa dipake ngageprak.

Yg bikin heran, mak akung  badanya besar tinggi, ternyata lari ter-birit2 melemparkan baju, hanya kkrn merogoh anak tikus yg masih merah disaku baju taqwanya.

Sekali lagi, ketakutan memang milik semua orang, termasuk jawara kampung ini.

0492. YAA SALAAAAM :

Datang musim buah dukuh, anak2 gadis sedang ngumpulin buah yg berjatuhan kala dipetik, "maneuu diis (maksudnya gadis) lah matang galeuu", kata mang Salam dan dia panjat pohon dukuh.

"Ambiee yg matang mang", yg maneuu, "yg itu tuuuuh, enduuu Salam niiih", yg maneuuu diis.
Dia pura2 mencari buah dukuh dg kain sarung sdh dililitkan dileher, jadilah pantat lengkap dg burung dan kedua telornya bergelayutan, tdk persis banget sih sama buah dukuh.

"Mang buah kweni di depan madrasah itu lah pada matang auuh", auh, payou aku panjat keuh. Berangkatlah mang Salam diiringi anak2 gadis, begitu sampai dibawah pohon kweni, dia melorotkan celana dan  memanjat pokok kweni tanpa celana.

Buah kweni berjatuhan tapi tdk ada anak gadis yg mengambil buahnya, "dasar mang Salam lah gileuu", dan merekapun meninggalkannya, tinggal lah mang Salam dg buah kweni matang seberunang.

Sebenarnya masih ada kawannya iya pak mantri Ripto, orang Jawa juga, yg ini istrinya (teh Rumput) orang Serang. Kalau melihat anak2 gadis lewat teh Rumput manggil2, "Diis lihat kakang mu tuuh".

Iya suaminya duduk berjongkok didepan pintu rumah, dg kain sarung yg tergulung, burung yg bertelor sedang "ngisis bulu", "dasar mantri Ripto".


0491. YAA SALAAAAM :

kisah ini penting diceritakan krn boleh jadi tdk selalu ada di sembarang tempat dan sembarang generasi, iya mang Salam tiang Gombong Jawa Tengah, tinggal di Lampung Utara, adiknya mang Tarpadi tetangga sebelah rumah.

Kalau kakanya orang yg santun, tekun bekerja (tukang kayu), taat beribadah, nah adiknya lain lagi, pendiam tdk banyak bicara dan agak pemalas. Kerjanya diam saja, terutama kalau sdh melihat anak2 gadis perawan mau lewat.

Dia akan diam saja duduk diatas "sasak" jalan kerumahnya, tepatnya jongkok dg (maaf) pantat dan telor burung yg terbuka. Dia akan tetap diam membisu seribu basa, walaupun anak2 gadis itu lari berhamburan.

"Endu mang Salam nih pantatnya jengoaan, teh Rumsinah mang Salam tuuuh", dasar jemeu gileu Salam tuuh, kata istrinya.

NGABUBURIT : 04041. BUAH PARASI :

Pergi keladang kebun melinjo dan durian, dibawahnya terhampar tanaman liar perdu Parasi.     

Perdu2-an gulma sejenis salak tdk berduri, tingginya dua jengkal, mayang buahnya sebesar ujung kelingking, berisi 3/4 buah berkamar 3.

Isi buahnya berbiji hitam dibungkus daging buah berwarna putih seperti jeli, baunya harum, rasanya manis.

Disisir seputar kebun, dicari mayang buah yg masak dan ranum, ditenpatkan didalam cayut kecil mainan anak.

"Tuh dikebon kula buah parasi mayak, kamari eta karak dibabad", kata ma Ambi, keponakan uyut kebunnya bersebelahan.

Rasa buah Parasi manisnya hanya selintas, tapi, ini tapinya, setelah makan buah ini, setiap kita minum air putih, terasa maniiis, tak habis-habis.

Rasa inilah yg membuat anak2 kampung heboh, rasa istimewa dan ajaib, (untuk ukuran di kampung) waktu itu.

Bahkan anak2 kota, dari Bogor kalau pulang mudik ke Pandeglang, heboh juga, ada lebihnya, mereka membawa perdunya dalam pot, "buat ditanam didepan rumah".